Cari

Loading
Tampilkan postingan dengan label One Day No Rice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label One Day No Rice. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2013

7 Alasan Mengapa Kita Harus Berhenti Makan Nasi


Hasil riset yang baru saja dilakukan membuktikan bahwa makan nasi ternyata tidak baik bagi kita. Buktinya :
1.      NASI MENYEBABKAN KECANDUAN. Responden kami yang tidak makan nasi selama sehari saja akan kelaparan dan merasa sangat ingin makan nasi lagi.
2.      SETENGAH dari seluruh siswa Indonesia yang makan nasi nilainya ada di bawah rata-rata kelas.
3.      Dokter melarang bayi yang baru lahir untuk makan nasi. Hal ini menjadi bukti bahwa nasi punya dampak BERBAHAYA yang sudah dibuktikan oleh ilmu kedokteran.
4.      Nasi yang kering biasa dimakan oleh ayam. Nah, sekarang anda perlu curiga dari mana FLU BURUNG berasal.
5.      Jumlah pemakan nasi di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemakan nasi di negara maju. Ini mungkin salah satu penyebab KETERBELAKANGAN pada negara ini.
6.      Di warung-warung, biasanya para buruh makan nasi dalam jumlah lebih banyak daripada kaum eksekutif. Hal ini membuktikan bahwa makan nasi MENURUNKAN kemampuan ekonomi seseorang.

Dalam kondisi tertentu, makan nasi MENINGKATKAN resiko kematian. Misalnya makan nasi sambil jalan di tengah jalan tol.

Sabtu, 26 November 2011

One Day No Rice

Pemilik Kantin Patuh Tak Jual Nasi

BATUJAJAR,(GM)-
Pemilik kantin di kompleks perkantoran Pemkab Bandung Barat, Jalan Raya Batujajar memenuhi imbauan untuk tidak menjual nasi pada Rabu (2/11). Sebagai gantinya, pemilik kantin menjual keruk kentang, lontong singkong, nasi reundeu (berbahan baku singkong), dan jenis makanan berbahan baku umbi-umbian.

Pemilik kantin "Nani Mustika", Ny. Nani mengganti nasi dengan nasi singkong atau nasi reundeu yang bahan bakunya dari ampas singkong. Ny. Nani membeli 5 kilogram nasi singkong dari pedagang nasi reundeu di Cireundeu, Kota Cimahi.

"Tiap hari saya menyediakan nasi sebanyak 5 kilogram. Nasi singkong yang saya siapkan juga sama banyaknya, yaitu 5 kilogram," kata Nani di Batujajar, Rabu (2/11).

Meski nasi beras diganti nasi singkong yang khusus didatangkan dari Cireundeu, namun harga tiap porsinya tetap sama. Harga satu porsi nasi singkong lengkap dengan lauk-pauknya seperti ayam atau daging sapi ditambah tahu dan tempe Rp 10.000/porsi.

"Kemarin (Selasa, 2/11), para pemilik kantin dikumpulkan Plt. Sekda KBB, Rakhmat. Pertemuan itu membahas rencana gerakan 'One Day No Rice' yang dilaksanakan tiap Rabu. Pemerintah meminta semua pemilik kantin, khusus hari Rabu mengganti nasi dengan makanan non-nasi. Kita mendukung program ini supaya menekan konsumsi beras," ujarnya.

Hanya saja ia menyayangkan gerakan One Day No Rice tidak tersosialisasikan dengan baik kepada semua PNS, karena masih banyak PNS yang menanyakan nasi. Mereka tidak mengetahui kalau Pemkab Bandung Barat menggulirkan gerakan sehari tanpa nasi. "Alangkah baiknya di gerbang masuk kantor pemkab dipasang spanduk gerakan sehari tanpa nasi, biar terbaca oleh semua PNS," ujarnya.

Lain Nani, lain pula dengan Titi, pemilik kantin Gayasari. Kantin yang biasanya menjual paket ayam goreng, ayam bakar, dan ikan bakar ini mengganti nasi dengan lontong singkong yang dipadukan dengan sate ayam.

PNS belum siap

Meski pemilik kantin mematuhi anjuran pemerintah, namun sebagian PNS tampaknya belum siap untuk mengganti nasi dengan bahan olahan lainnya. Sejumlah PNS terlihat memilih makan di luar kompleks perkantoran yang belum terkena anjuran pemerintah tersebut.

"Saya tidak mempermasalahkan penggantian nasi dengan singkong, karena rasanya biasa saja. Malah aneh kalau melihat ada PNS yang tak terbiasa makan singkong sampai bersusah payah mencari nasi keluar kompleks perkantoran," kata Dede Rohman, pegawai Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) KBB, Dede Rohman.

Diberitakan sebelumnya, Pemkab Bandung Barat mengeluarkan surat edaran kepada pedagang yang berjualan di kompleks perkantoran untuk menyukseskan gerakan One Day No Rice (Satu Hari Tanpa Nasi), Rabu (1/11). (B.104)**

Minggu, 30 Oktober 2011

Setiap Hari Jumat Kita Makan Ubi

TRIBUNNEWS.COM, ENDE - Bupati Ende Provinsi NTT, Don Bosco Wangge, mencanangkan Jumat tanpa beras bagi seluruh masyarakat Kabupaten Ende terhitung November 2011. Hal ini dilakukan dalam upaya peningkatan ketahanan pangan lokal di Kabupaten Ende. Pencanangan Jumat Tanpa Beras ini dilakukan saat peringatan puncak Hari Pangan Sedunia (HPS) di Wolojita, Kecamatan Wolojita, Ende, Sabtu (29/10/2011).
"Pada kesempatan ini, saya canangkan untuk setiap hari Jumat kita makan non beras. Jadi sepanjang hari Jumat kita hanya makan ubi, pisang, jagung dan lainnya. Saya minta tolong kepada para camat, lurah, kepala desa, alim ulama untuk umumkan hal ini di semua tempat. Satu hari saja cukup. Saya hitung kalau jumlah PNS di Kota Ende 2.000 orang, maka kita sudah menghemat beras dalam jumlah yang sangat banyak. Maksud dari pencanangan ini adalah setiap hari Jumat kita memberikan kontribusi terhadap petani. Kalau kita semua ramai-ramai membeli pangan lokal dari petani kita, saya yakin gerakan swasembada pangan adalah masalah kecil yang pasti bisa dicapai," kata Wangge.
Menurut Wangge, sesuai penilaian dari pemerintah pusat, Ende dinilai berhasil meningkatkan kecukupan pangan dalam masyarakat. Ende, kata Wangge, berhasil mengembangkan pangan lokal yang spesifik. "Untuk itu, pada kesempatan ini saya ajak kita semua untuk konsumi pangan dari kebun sendiri. Kalau beli beras dari kabupaten lain, anggap itu impor beras. Kita punya lahan yang sangat luas yang belum digarap sama sekali. Ini menjadi tantangan bagi kita," kata Wangge.
Ketua Panitia HPS 2011 tingkat Kabupaten Ende, Albertus Yani, dalam laporannya, mengatakan, puncak HPS 2011 diikuti lebih dari 300 orang dari unsur pemerintah, petani, LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, siswa, guru dan lainnya. Berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memeriahkan HPS, kata Yani, yakni misa syukur, pemberkatan benih, pameran pangan local, temu wicara dan lainnya.
Puncak HPS 2011 di Kecamatan Wolojita diisi dengan berbagai kegiatan seperti peluncuran peta ketahanan dan kerentangan pangan Kabupaten Ende, pameran pangan dan olahan lokal, atraksi tarian daerah dan parade lagu-lagu daerah dari masyarakat Kecamatan Wolojita. (eko)

Editor: Prawira Maulana  |  Sumber: Pos Kupang