TRIBUNNEWS.COM, ENDE - Bupati Ende Provinsi NTT, Don Bosco Wangge, mencanangkan Jumat tanpa beras bagi seluruh masyarakat Kabupaten Ende terhitung November 2011. Hal ini dilakukan dalam upaya peningkatan ketahanan pangan lokal di Kabupaten Ende. Pencanangan Jumat Tanpa Beras ini dilakukan saat peringatan puncak Hari Pangan Sedunia (HPS) di Wolojita, Kecamatan Wolojita, Ende, Sabtu (29/10/2011).
"Pada kesempatan ini, saya canangkan untuk setiap hari Jumat kita makan non beras. Jadi sepanjang hari Jumat kita hanya makan ubi, pisang, jagung dan lainnya. Saya minta tolong kepada para camat, lurah, kepala desa, alim ulama untuk umumkan hal ini di semua tempat. Satu hari saja cukup. Saya hitung kalau jumlah PNS di Kota Ende 2.000 orang, maka kita sudah menghemat beras dalam jumlah yang sangat banyak. Maksud dari pencanangan ini adalah setiap hari Jumat kita memberikan kontribusi terhadap petani. Kalau kita semua ramai-ramai membeli pangan lokal dari petani kita, saya yakin gerakan swasembada pangan adalah masalah kecil yang pasti bisa dicapai," kata Wangge.
Menurut Wangge, sesuai penilaian dari pemerintah pusat, Ende dinilai berhasil meningkatkan kecukupan pangan dalam masyarakat. Ende, kata Wangge, berhasil mengembangkan pangan lokal yang spesifik. "Untuk itu, pada kesempatan ini saya ajak kita semua untuk konsumi pangan dari kebun sendiri. Kalau beli beras dari kabupaten lain, anggap itu impor beras. Kita punya lahan yang sangat luas yang belum digarap sama sekali. Ini menjadi tantangan bagi kita," kata Wangge.
Ketua Panitia HPS 2011 tingkat Kabupaten Ende, Albertus Yani, dalam laporannya, mengatakan, puncak HPS 2011 diikuti lebih dari 300 orang dari unsur pemerintah, petani, LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, siswa, guru dan lainnya. Berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memeriahkan HPS, kata Yani, yakni misa syukur, pemberkatan benih, pameran pangan local, temu wicara dan lainnya.
Puncak HPS 2011 di Kecamatan Wolojita diisi dengan berbagai kegiatan seperti peluncuran peta ketahanan dan kerentangan pangan Kabupaten Ende, pameran pangan dan olahan lokal, atraksi tarian daerah dan parade lagu-lagu daerah dari masyarakat Kecamatan Wolojita. (eko)
"Pada kesempatan ini, saya canangkan untuk setiap hari Jumat kita makan non beras. Jadi sepanjang hari Jumat kita hanya makan ubi, pisang, jagung dan lainnya. Saya minta tolong kepada para camat, lurah, kepala desa, alim ulama untuk umumkan hal ini di semua tempat. Satu hari saja cukup. Saya hitung kalau jumlah PNS di Kota Ende 2.000 orang, maka kita sudah menghemat beras dalam jumlah yang sangat banyak. Maksud dari pencanangan ini adalah setiap hari Jumat kita memberikan kontribusi terhadap petani. Kalau kita semua ramai-ramai membeli pangan lokal dari petani kita, saya yakin gerakan swasembada pangan adalah masalah kecil yang pasti bisa dicapai," kata Wangge.
Menurut Wangge, sesuai penilaian dari pemerintah pusat, Ende dinilai berhasil meningkatkan kecukupan pangan dalam masyarakat. Ende, kata Wangge, berhasil mengembangkan pangan lokal yang spesifik. "Untuk itu, pada kesempatan ini saya ajak kita semua untuk konsumi pangan dari kebun sendiri. Kalau beli beras dari kabupaten lain, anggap itu impor beras. Kita punya lahan yang sangat luas yang belum digarap sama sekali. Ini menjadi tantangan bagi kita," kata Wangge.
Ketua Panitia HPS 2011 tingkat Kabupaten Ende, Albertus Yani, dalam laporannya, mengatakan, puncak HPS 2011 diikuti lebih dari 300 orang dari unsur pemerintah, petani, LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, siswa, guru dan lainnya. Berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memeriahkan HPS, kata Yani, yakni misa syukur, pemberkatan benih, pameran pangan local, temu wicara dan lainnya.
Puncak HPS 2011 di Kecamatan Wolojita diisi dengan berbagai kegiatan seperti peluncuran peta ketahanan dan kerentangan pangan Kabupaten Ende, pameran pangan dan olahan lokal, atraksi tarian daerah dan parade lagu-lagu daerah dari masyarakat Kecamatan Wolojita. (eko)
Editor: Prawira Maulana | Sumber: Pos Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar