Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Oktober 2013
Angkat Pangan Lokal Lewat Kue Simping Ala Mahasiswa UGM
Permasalahan diversifikasi pangan, defisiensi gizi, dan kurangnya pemberdayaan sumber daya manusia untuk mendukung pembangunan berkelanjutan masih menjadi permasalahan di Indonesia. Defisiensi gizi di kalangan masyarakat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan dan menghambat tercapainya kesejahteraan sosial. Di sisi lain, di kalangan masyarakat Indonesia juga telah berkembang gaya konsumsi pangan lokal, pangan sehat, dan back to nature.
Menyikapi isu tersebut, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari Maya Septavia S., Pustika Adwiyani, Fajar Dwi Cahyoko, Zesy Ayu Tri Astuti, dan Gian Handika memformulasikan produk olahan pangan lokal melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) FRUTAGE : Fruity and Vegetable Compo Sempe. Mendengar istilah sempe (simping) mungkin asing bagi kawula muda, tetapi tidak demikian kiranya bagi mereka yang mempunyai kenangan dengan makanan tradisional ini.
“Bentuknya mirip kue dolar atau mini-crepes, rasanya mirip kue semprong, dikombinasikan dengan bahan-bahan alami berbahan dasar tepung beras, mocaf, dan pasta buah atau sayuran yang diperoleh melalui budidaya pertanian organik yang terintegrasi,”kata Maya, Rabu (26/6).
Maya menambahkan pembuatan sempe menggunakan bahan dasar yang mempunyai aktivitas fisiologis dengan memberikan efek positif bagi kesehatan masyarakat. Inovasi FRUTAGE Fruity and Vegetables Compo Sempe adalah penggunaan tepung komposit dari tepung ketan dan tepung mocaf disertai inisiasi buah dan sayur organik sebagai pasta perisa dan bahan fortifikasi nutrisi yang diperoleh dari seperti susu dan kacang-kacangan untuk menambah cita rasa, tekstur, dan nilai gizinya.
“Dalam perkembangannya, FRUTAGE dibuat dengan bahan-bahan tepung lokal dan mendapat respon positif dari penggemarnya,”katanya.
FRUTAGE Fruity and Vegetables Compo Sempe hadir sebagai produk inovatif berbahan baku tepung mocaf dengan varian rasa yang bernutrisi vitamin A, zat besi, iodium, dan asam folat. FRUTAGE dibuat dengan komposisi yang ideal memadukan tepung beras ketan, tepung mocaf, susu, dan varian tepung maupun pasta buah dan sayur sumber vitamin A, zat besi, iodium, dan asam folat.
“Tujuan penggunaan tepung komposit adalah untuk diversifikasi pangan dan pemanfaatan kearifan lokal dengan teknologi berbasis integrated sustainable ecoindustry untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan industri dan wilayah penghasil bahan baku,”katanya.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa 2012-2013 ini, FRUTAGE mengangkat nilai-nilai pangan lokal pada kue simping menjadi camilan lokal berkelas dan bernilai gizi, dan sehat tanpa pengawet, pemanis, maupun pewarna sintetis. FRUTAGE telah terdaftar PIRT dan melalui proses uji kimia. Jangkauan pemasaran produk ini sudah melingkupi wilayah Yogyakarta, Solo, Purworejo, hingga Sumatera Selatan dengan segenap reseller dan konsinyasi yang tersebar di daerah tersebut. Untuk mengenal lebih dekat tentang FRUTAGE, tim PKMK FRUTAGE telah menyediakan space online di web www.bisnisukm.com/ +nucifera-pangan-makmur. (Humas UGM/Satria AN)
Sumber: UGM
Selasa, 08 Oktober 2013
Wonogiri Bakal Kembangkan Beras Analog
Solopos.com, WONOGIRI–Kabupaten Wonogiri bakal mengembangkan beras analog. Makanan pengganti beras itu dibuat dari produk pangan lokal yang banyak tersebar di masyarakat, yakni singkong dan jagung.
Pengembangan beras analog itu merupakan bagian program Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) yang di Provinsi Jawa Tengah hanya diberikan kepada Kabupaten Wonogiri, Kebumen, dan Temanggung. Di Wonogiri, program tersebut baru diberikan kepada satu kelompok, yakni Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bimocaf, asal Dusun Johunut, Desa Johunut, Kecamatan Paranggupito.
Ketua Bimocaf, Wahyudi, mengatakan awal September lalu pihaknya menerima seperangkat alat untuk pengembangan pangan pokok lokal dari program MP3L. Ada tiga bentuk makanan yang menjadi sasaran, yakni mi, makanoni, dan beras. Khusus mi, kelompoknya sudah berhasil membuat mi dari tepung modified cassava flour (mocaf), dengan bahan baku delapan bagian tepung mocaf dan satu bagian tepung terigu.
“Mi sudah berhasil. Sudah kami pasarkan juga, harganya Rp12.000 per kilogram (kg). Banyak pesanan, ya sekitar 25-30 kg per hari. Yang beras analog, baru akan dimulai. Sekarang sudah jalan pembelajarannya,” ungkap Wahyudi, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (2/10/2013).
Beras analog adalah makanan terbuat dari tepung singkong dan tepung jagung dengan bentuk persis seperti beras. Namun warnanya tidak melulu putih, warna beras analog bisa disesuaikan dengan keinginan pembuatnya. Menurut Wahyudi, membuat beras analog sebenarnya tidak sulit. Apalagi, pihaknya kini sudah menerima cetakan untuk membuat beras analog tersebut. Hanya saja, di kalangan masyarakat bagian selatan Wonogiri, pembuatan beras analog terkendala bahan baku tepung jagung.
Dia mengaku untuk menyediakan tepung singkong dalam bentuk tepung mocaf tidak ada masalah, namun mencari tepung jagung agak sulit. Padahal beras analog dibuat dari satu bagian tepung mocaf dan satu bagian tepung jagung. Kendati demikian, Wahyudi dan 30-an anggota Bimocaf akan tetap mengembangkan produk tersebut dengan harapan kelak bisa menggantikan beras yang selama ini jadi pangan pokok masyarakat.
Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Diversifikasi Pangan, Baroto, mewakili Plt Kepala Kantor Ketahanan Pangan Wonogiri, Bambang Haryadi, membenarkan pengembangan beras analog bakal di mulai di Kota Gaplek. Pengembangan pangan pokok dari bahan baku lokal tersebut diawali dengan membuat mi yang sudah bisa diterima dengan baik di pasar. Ia menambahkan awal Oktober ini pihaknya mentargetkan beras analog berhasil dibuat KUB Bimocaf di Desa Johunut tersebut.
Baroto yang pernah mencicipi beras analog buatan kabupaten lain mengaku memang rasa singkong masih kental pada beras analog. Tapi bentuknya sudah relatif sama dengan beras yang dikenal selama ini. Dia yakin dengan beberapa kreasi campuran bahan, masyarakat Wonogiri bisa menghasilkan beras analog yang layak dijual dan sesuai dengan selera masyarakat.
Sumber: Solo Pos
Menteri Pertanian Ajak Warga Manfaatkan Pekarangan
Boyolali – Masyarakat di pedesaan diajak untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang masih kosong dengan ditanami tanaman yang bisa menopang ketahanan pangan keluarga. Langkah ini sekaligus untuk memperkuat ketahanan pangan tingkat nasional. Secara nasional, terdapat 10 juta hektar pekarangan milik warga yang masih terbengkalai.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Pertanian, Suswono, saat melakukan kunker ke Kelompok Wanita Tani Ngudi Rejeki, Dlingo, Mojosongo, Boyolali, Jumat siang (4/10), yang dinilai telah berhasil mengembangkan kawasan rumah pangan lestari program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan (P2KP).
“Kalau semua pekarangan ditanami dengan tanaman yang bisa menopang pangan keluarga, maka Indonesia tidak perlu lagi mengekspor dari luar, selain itu masyarakat tidak perlu kebingungan bila harga pangan naik,” ungkap Suswono yang didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmiko dan Wakil Bupati Boyolal, Agus Purmanto.
Lahan pekarangan dapat dimanfaatkan dengan ditanami tanaman holtikultura hingga umbi-umbian. Hasilnya, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sisa lebih produksi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi ibu rumah tangga. Terkait ini, tahun ini Kementan mengucurkan bantuan untuk program KRPL P2KP untuk 15 ribu desa, termasuk 14 desa di Boyolali. Masing-masing desa tersebut mendapat bantuan Rp 47 juta untuk pengembangan KRPL dengan ujung tombak para ibu rumah tangga.
Di sisi lain, Ketua KWT Ngudi Rejeki Dlingo, Suratmi,menuturkan, semula anggota kelompoknya hanya sekitar 30 orang. Namun saat ini jumlah anggota berkembang menjadi 60 orang. Di setiap lahan pekarangan rumah warga ditanami dengan berbagai macam tanaman holtikultura, sayur-sayuran, hingga umbi-umbian dan tanaman obat.
“Setelah kami memanfaatkan lahan pekarangan di rumah, ternyata mampu menghemat uang belanja harian antara Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu/hari,” tuturnya.
Sumber: Timlo
GERAKAN SEHAT DENGAN PANGAN LOKAL JATENG
Sejumlah pelajar menyantap makanan berbahan dasar lokal sebagai simbol
pencanangan Gerakan Sehat dengan Pangan Lokal Jawa Tengah di Taman
Balekambang, Solo, Jumat (4/10/2013). Gerakan itu untuk mengkampanyekan
diversifikasi pangan dengan sosialisasi makanan berbahan dasar lokal non
beras.
Sumber: Solo Pos
Sumber: Solo Pos
Diversifikasi Pangan Lokal, Jateng Budidayakan Minyong
dok.timlo.net/dhefi nugroho
Menteri Pertanian Suswono didampingi
Wagub Jateng Heru Sudjatmoko dan Walikota Solo Hadi Rudyatmo saat
pencanangan Diversifikasi Pangan Lokal, di Taman Balekambang, Jumat
(4/10)
Solo – Masyarakat diminta untuk mulai melakukan diversifikasi pangan dengan berbasis bahan baku lokal. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengungkapkan, meningkatnya jumlah penduduk dunia pada beberapa dekade mendatang mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan dunia. Hal itu menjadi tantangan berat bagi masing-masing negara untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.
“Diperkirakan pada 2045 nanti, penduduk dunia menjadi 9 milar jiwa. Kebutuhan pangan akan meningkat menjadi 70 persen,” katanya saat menghadiri Pencanangan Diversifikasi Pangan Lokal di Taman Balekambang, Solo, Jumat (4/10).
Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri kini melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan berbasis pangan lokal. Masyarakat diminta untuk beralih mengkonsumsi makanan pokok selain beras (padi).
“Banyak makanan pokok selain padi di sekitar kita yang bisa dikonsumsi. Di Jawa Tengah sendiri kami mulai membudidayakan bahan lokal seperti minyong (mie-ganyong) dan beras mutiara, yakni campuran antara jagung dan mocaf,” kata Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko.
Bahkan, Heru juga mengajak kepada semua kepala daerah yang ada di Jateng untuk mencanangkan program sehari tanpa makanan beras (padi). “Bisa dimulai dan disosialisasikan, sehari dalam seminggu tanpa makan nasi. Tujuannya untuk mengembangkan diversifikasi berbasis bahan pangan lokal,” terangnya.
Sumber: http://www.timlo.net/baca/68719513593/diversifikasi-pangan-lokal-jateng-budidayakan-minyong/
Rabu, 11 September 2013
Mie Ayam Dari Singkong Buatan Mahasiswa IPB
Stand mie ayam dari singkong di Kampus IPB Baranangsiang ramai dikunjungi
“Produk mie ayam ini dari berbahan baku tepung singkong termodifikasi atau Modified Cassava Flour (MOCAF). Inovasi ini merupakan hasil Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2012,” kata Laeli Nur Hasanah, mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, yang melakukan penelitian mie ini.
Inovasi ini juga dimaksudkan dalam rangka diversifikasi pangan. Pemilihan singkong sebagai bahan baku pembuatan mie ayam ini cukup beralasan. Mengingat singkong adalah salah satu tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia sebagai sumber karbohidrat, yang produksinya belum optimal karena masih dinilai kurang ekonomis.
“Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu produk pangan baru berbasis singkong untuk meningkatkan nilai ekonomis singkong sebagai salah salah satu alternatif pengganti terigu dan upaya diversivikasi pangan,”kata Laeli.
Sebelumnya, pada PKM Tahun 2012 Laeli dkk sudah membuat mie instan dari tepung singkong dan tempe. Laeli bersama empat rekannya menuturkan, bahwa suatu produk makanan harus memperhatikan aspek keamanan pangan.
Salah satunya adalah penggunaan bahan pengawet makanan yang harus sesuai dengan standar yang dianjurkan pemerintah.
Karenanya, mie instan hasil penelitian mereka terbebas dari bahan pengawet yang berbahaya karena dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia berbahaya.
“Kami membuat mie segar sebagai bahan baku mie ayam sebanyak 100 porsi dalam waktu semalam,”katanya. Lebih lanjut Laeli menjelaskan, MOCAF merupakan produk turunan dari singkong dengan prinsip modifikasi singkong secara fermentasi.
MOCAF menyumbang sedikit protein sehingga diperlukan bahan sumber protein untuk meningkatkan kandungan protein pada mie.
Gelar produk dan teknologi yang merupakan bagian dari Dies Natalis IPB ke-50 ini merupakan hasil kerjasama IPB dengan Bank BRI.(yopi)
Sumber: Poskota
Selasa, 10 September 2013
Perhutani Bangun Pabrik Sagu di Papua
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk mengatasi tingginya harga bahan makanan pokok masyarakat Papua, Perum Perhutani akan membangun industri sagu di Papua Barat. Rencananya pabrik sagu BUMN kehutanan ini akan memproduksi 100 ton per hari.
Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan, harga bahan makanan pokok di Papua rata-rata lebih mahal dua kali lipat dari harga di luar Papua. ''Di Papua Rp 18 ribu sekilo, di luar Provinsi Papua hanya Rp 9.000,'' kata dia, Jumat (6/9).
Menurut Bambang, untuk memenuhi ketersediaan bahan baku pabrik sagu, Perhutani juga menggandeng masyarakat lokal untuk menjamin pasokan bahan baku pembuatan sagu. Bahan baku sagu akan ditanam sendiri oleh Perhutani.
Sagu, kata dia, merupakan makanan pokok masyarakat Papua dan simbol budaya masyarakat lokal Papua. Dari sagu dapat dihasilkan beras sintetis untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional.
Pengembangan ini, lanjut Bambang, mensinergikan tiga aspek pengelolaan hutan lestari sesuai peran perusahaan tersebut mendukung kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, sosial budaya dan perekonomian masyarakat.
Berdasarkan data Perhimpunan Pendayagunaan Sagu Indonesia (PPSI), produksi sagu nasional baru mencapai 200 ribu ton per tahun atau hanya sekitar lima persen dari potensi sagu nasional. Indonesia merupakan penyumbang terbesar sagu dunia, disusul Papua Nugini dan Malaysia.
| Redaktur : Nidia Zuraya |
Jumat, 06 September 2013
Cara Badan Pangan PBB Rayakan Kemerdekaan RI
Badan Pangan PBB World Food Programme (WFP) merayakan HUT ke-68 RI dengan kompetisi memasak untuk anak sekolah dengan bahan pangan lokal di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
"Ini merupakan acara yang menarik untuk menampilkan keterlibatan masyarakat setempat dalam penyediaan makanan bergizi yang terbuat dari bahan pangan lokal dalam program makanan tambahan anak sekolah kami," kata Acting Country Director WFP Indonesia, Peter Guest dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (17/8/2013).
Peter Guest memaparkan, perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia diwarnai dengan kompetisi yang bertujuan untuk mempromosikan keragaman pangan dan menekankan pentingnya cara membuat makanan sekolah yang lebih bergizi melalui sumber bahan pangan lokal.
Ia juga mengemukakan, sebanyak 21 kelompok masak berpartisipasi dalam kompetisi ini, baik kelompok masak dari sekolah WFP menjalankan program makanan tambahan anak sekolah, maupun kelompok masak dari sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Kupang.
Kelompok masak terdiri atas perwakilan orang tua siswa, mayoritas ibu, yang telah mendapatkan pelatihan tentang gizi dan kebersihan dalam mempersiapkan makanan sekolah. Program makanan sekolah yang dilaksanakan WFP tersebut bekerjasama dengan pemerintah daerah dan melibatkan partisipasi masyarakat lokal.
Selain itu, lebih dari 7.600 siswa SD di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan menerima makanan tambahan anak sekolah bergizi 3 kali seminggu.
WFP juga menyediakan bahan baku jagung dan kacang hijau, sementara masyarakat memberikan kontribusi bahan pangan lokal seperti santan, singkong, pisang dan kayu manis.
"Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya makanan yang beragam dan bergizi dalam asupan sehari-hari," tutup Peter Guest. (Ant/Riz)
Rabu, 21 Agustus 2013
Mahasiswa IPB Raih Penghargaan Inovasi Pangan
Tim mahasiswa IPB bersama dengan Dr.Feri Kusnandar dan Angelique Dewi Permatasari.
KOMPAS.com — Tim mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) meraih penghargaan untuk inovasi mereka dalam alternatif pangan bagi pengidap HIV/AIDS. Mereka menciptakan biskuit bergizi tinggi yang dibuat dari pangan lokal.
Dalam kompetisi Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) di Chicago, AS, tim IPB meraih juara dua dan juara tiga. Kompetisi tersebut adalah kompetisi internasional bidang teknologi pangan yang diselenggarakan oleh Institute of Food Technologists Student Association.
Kedua tim tersebut adalah tim MASOCA-Ball yang beranggotakan Ardiyansah Mallega, Stella Denissa, dan Alviane Leonita sebagai pemenang kedua dan tim Sweepo yang beranggotakan Veni Issani, Cynthia, dan Jian Septian sebagai pemenang ketiga. Pemenang pertamanya adalah tim EnerTEIN yang beranggotakan enam orang mahasiswa pascasarjana dari Universiti Putra Malaysia.
Dr Feri Kusnandar Hidayat MSc, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, selaku dosen pembimbing mereka, memaparkan, DSDC bertujuan untuk menggali konsep dan pemikiran dari mahasiswa terhadap permasalahan pangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.
Jika tim Sweepo menggunakan bahan baku ubi merah dari Papua, tim MASOCA-Ball memilih bahan utama tepung jagung (maizena). Mereka juga menggunakan campuran tepung kedelai, parutan wortel, ditambah kacang-kacangan, gula, dan telur.
Kacang-kacangan, pati jagung, dan tepung kedelai adalah bahan pangan lokal yang banyak terdapat di Nigeria, Afrika.
Menurut Alviane, anggota tim, MASSOCA Ball adalah biskuit yang murah dan bernutrisi. "Selain mengandung karbohidrat, lemak, dan protein, biskuit ini juga mengandung vitamin A yang bisa meningkatkan sistem imun," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/7/2013).
Panganan bergizi tersebut juga dibuat khusus agar anak-anak mudah memakannya. Rasanya yang manis juga akan disukai anak-anak. "Harapannya, anak-anak pengidap HIV daya tahannya meningkat sehingga penyakitnya tidak masuk menjadi AIDS," katanya.
Tim ini mengambil kasus di Negeria, yang merupakan negara dengan jumlah pengidap HIV/AIDS terbesar kedua di Afrika setelah Afrika Selatan.
Feri menambahkan, meski biskuit tersebut masih terbatas konsep, diharapkan ada industri yang bisa mengembangkannya sehingga bisa dijangkau semua anak.
Sumber: Kompas.Com
Rabu, 31 Juli 2013
Dorong Diversifikasi dengan Produksi Beras Cerdas
TEMPO.CO, Jakarta - Diversifikasi pangan untuk pemenuhan sumber karbohidrat terus dilakukan. Tahun ini, pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta akan menyediakan 16 pabrik pengolahan beras dari pangan lokal yang dinamakan pabrik beras cerdas.
Sebanyak 16 pabrik beras cerdas akan siap beroperasi tahun ini. Beras cerdas adalah beras restrukturisasi dari berbagai bahan baku alami yang dibuat dari bahan baku non-padi, seperti singkong, ketela, sagu, jagung dan sorgum.
Peneliti sekaligus penemu beras cerdas dari Universitas Jember, Achmad Subagyo, mengatakan pada 2012 pabrik beras cerdas sudah terbangun empat unit di tiga kabupaten, yakni di Kabupaten Jember dua unit, lalu di Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Blitar masing-masing satu unit. "Pembangunan pabrik beras cerdas ini hasil kerja sama kami dengan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian," kata Subagyo di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 26 Maret 2013.
Setelah empat pabrik yang sudah terbangun itu, ujarnya, tahun ini akan dilanjutkan pembangunan 12 pabrik beras cerdas. Pabrik ini nantinya akan dibangun di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Barat.
Pabrik beras cerdas ini direncanakan memiliki kapasitas pengolahan 1 ton per hari atau 360 ton per tahun. Nilai investasi untuk tiap pabrik diperkirakan mencapai Rp 350-400 juta. "Dananya dari investor swasta dan juga didukung dari dana APBN dan APBD," ujarnya.
Subagyo menambahkan, karena tergolong baru, beras cerdas ini belum terlalu diminati masyarakat. Kesulitan terutama dari sisi penjualannya. Bahkan, produksi beras cerdas dari pabrik yang sudah terbangun rata-rata hanya mampu terjual 25 ton selama tiga bulan.
Padahal, dari sisi harga, beras cerdas ini lebih murah dibandingkan dengan beras yang terbuat dari padi. Ia menyebutkan, beras cerdas dijual rata-rata Rp 7.000 per kilogram dan jika diproduksi massal harganya bisa lebih murah. Sedangkan beras dari padi harganya saat ini sekitar Rp 8.000 per kilogram.
Karena itulah, ia meminta pemerintah terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk mengkonsumsi beras non-padi. Dengan begitu, pasar beras cerdas akan terus tumbuh. "Sekarang produksi beras cerdas masih dijual untuk masyarakat yang berkebutuhan khusus, seperti penderita diabetes. Pasarnya memang masih sedikit," katanya. Ke depan, ia tengah mengupayakan beras cerdas ini bisa masuk ke pasar retail.
ROSALINA
Jumat, 28 Juni 2013
Kue Simping Mahasiswa UGM Atasi Krisis Pangan
Kue Simping
Demi mengatasi hal tersebut, lima mahasiswa dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Maya Septavia S, Pustika Adwiyani, Fajar Dwi Cahyoko, Zesy Ayu Tri Astuti, dan Gian Handika membuat produk olahan pangan lokal melalui program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) Frutage yaitu Fruity and Vegetable Compo Sempe.
Pasti kalian akan mengerutkan dahi mendengar kata Simping. Makanan tradisional ini sudah tabu bagi mereka yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya mahasiswa UGM tersebut yang mempunyai kenangan dengan Simping itu sendiri.
"Bentuknya mirip kue dolar atau mini-crepes, rasanya mirip kue semprong, dikombinasikan dengan bahan-bahan alami berbahan dasar tepung beras, mocaf, dan pasta buah atau sayuran yang diperoleh melalui budidaya pertanian organik yang terintegrasi,” ujar Maya yang disitat dari laman UGM, Kamis (27/6/2013).
Lanjutnya, pembuatan sempe menggunakan bahan dasar yang mempunyai aktivitas fisiologis dengan memberikan efek positif bagi kesehatan masyarakat. Inovasi Frutage Fruity and Vegetables Compo Sempe adalah penggunaan tepung komposit dari tepung ketan dan tepung mocaf disertai inisiasi buah dan sayur organik sebagai pasta perisa dan bahan fortifikasi nutrisi yang diperoleh dari seperti susu dan kacang-kacangan untuk menambah cita rasa, tekstur, dan nilai gizinya.
"Dalam perkembangannya, FRUTAGE dibuat dengan bahan-bahan tepung lokal dan mendapat respon positif dari penggemarnya," ucapnya.
Frutage Fruity and Vegetables Compo Sempe hadir sebagai produk inovatif berbahan baku tepung mocaf dengan varian rasa yang bernutrisi vitamin A, zat besi, iodium, dan asam folat. Frutage dibuat dengan komposisi yang ideal memadukan tepung beras ketan, tepung mocaf, susu, dan varian tepung maupun pasta buah dan sayur sumber vitamin A, zat besi, iodium, dan asam folat.
"Tujuan penggunaan tepung komposit adalah untuk diversifikasi pangan dan pemanfaatan kearifan lokal dengan teknologi berbasis integrated sustainable ecoindustry untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan industri dan wilayah penghasil bahan baku," ungkapnya.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa 2012-2013 ini, Frutage mengangkat nilai-nilai pangan lokal pada kue simping menjadi camilan lokal berkelas dan bernilai gizi, dan sehat tanpa pengawet, pemanis, maupun pewarna sintetis. Frutage telah terdaftar PIRT dan melalui proses uji kimia. Jangkauan pemasaran produk ini sudah melingkupi wilayah Yogyakarta, Solo, Purworejo, hingga Sumatera Selatan dengan segenap reseller dan konsinyasi yang tersebar di daerah tersebut. (ade)
Sumber: Okezone
Rabu, 19 Juni 2013
CANBERRA -- Di Australia, Anda tidak perlu lagi pergi keluar
rumah untuk antre di supermarket atau berdesak-desakan di pasar. Kini,
belanja sayur-mayur, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya semakin marak
dilakukan lewat internet dan langsung dikirim ke rumah.
Data Bank Nasional Australia mencatat sektor ritel online di Australia telah meningkat dan kini nilainya mencapai lebih dari Rp 13,5 triliun.
Dari porsi tersebut yang terlihat meningkat adalah penjualan bahan pangan, seperti sayuran, buah-buahan, telur, dan susu.
Kini, belanja online memang tidak lagi sekedar belanja baju-baju atau barang-barang biasa. Tetapi belanja bahan pangan menawarkan kenyamanan tersendiri. "Sangat efisien, makanan yang dijual pun selalu segar, dan produk-produk lokal," ujar Fiona, salah satu konsumen.
"Dengan belanja bahan pangan juga membuat sangat hemat, tidak perlu transportasi, terlebih saya punya bayi berusia setahun di rumah. Jadi benar-benar mudah dibanding harus ke supermarket," ujarnya.
Akses terhadap internet memang sudah termasuk kebutuhan di negeri kangguru ini.
Direktur penelitian pasar online di perusahaan Nielsen, Melanie Ingrey mengatakan jumlah pembeli bahan pangan secara online sudah mencapai 14 persen dari total pengguna internet.
Inggris adalah negara dengan ritel online terbesar di dunia, tetapi "Australia memiliki penetrasi pasar yang lebih dalam hal penggunaan smartphone atau tablet," jelas Melanie.
Salah satu perusahaan terbesar yang menyediakan jasa online ini adalah Aussie Farmers Direct, yang mulai beroperasi delapan tahun lalu.
Perusahaan tersebut memiliki 800 orang staf, dan truk-truk yang siap menggantarkan sayur, buah-buahan, susu, dan telur ke rumah.
Chief Executive perusahaan itu, Braeden Lord, mengatakan sekitar 40 persen dari konsumen membeli buah-buahan dan sayur mayur, sementara 80 persen membeli susu.
Ia juga menjelaskan bahwa penghasilan yang didapat akan kembali ke para petani dan komunitas di daerah, dan bahwa perusahaannya tersebut memiliki pabrik tempat pemrosesan susu dan daging."Jadi bisnis ini sangat terintegrasi."
Data Bank Nasional Australia mencatat sektor ritel online di Australia telah meningkat dan kini nilainya mencapai lebih dari Rp 13,5 triliun.
Dari porsi tersebut yang terlihat meningkat adalah penjualan bahan pangan, seperti sayuran, buah-buahan, telur, dan susu.
Kini, belanja online memang tidak lagi sekedar belanja baju-baju atau barang-barang biasa. Tetapi belanja bahan pangan menawarkan kenyamanan tersendiri. "Sangat efisien, makanan yang dijual pun selalu segar, dan produk-produk lokal," ujar Fiona, salah satu konsumen.
"Dengan belanja bahan pangan juga membuat sangat hemat, tidak perlu transportasi, terlebih saya punya bayi berusia setahun di rumah. Jadi benar-benar mudah dibanding harus ke supermarket," ujarnya.
Akses terhadap internet memang sudah termasuk kebutuhan di negeri kangguru ini.
Direktur penelitian pasar online di perusahaan Nielsen, Melanie Ingrey mengatakan jumlah pembeli bahan pangan secara online sudah mencapai 14 persen dari total pengguna internet.
Inggris adalah negara dengan ritel online terbesar di dunia, tetapi "Australia memiliki penetrasi pasar yang lebih dalam hal penggunaan smartphone atau tablet," jelas Melanie.
Salah satu perusahaan terbesar yang menyediakan jasa online ini adalah Aussie Farmers Direct, yang mulai beroperasi delapan tahun lalu.
Perusahaan tersebut memiliki 800 orang staf, dan truk-truk yang siap menggantarkan sayur, buah-buahan, susu, dan telur ke rumah.
Chief Executive perusahaan itu, Braeden Lord, mengatakan sekitar 40 persen dari konsumen membeli buah-buahan dan sayur mayur, sementara 80 persen membeli susu.
Ia juga menjelaskan bahwa penghasilan yang didapat akan kembali ke para petani dan komunitas di daerah, dan bahwa perusahaannya tersebut memiliki pabrik tempat pemrosesan susu dan daging."Jadi bisnis ini sangat terintegrasi."
| Sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-06-17/belanja-bahan-pangan-online-di-australia-semakin-marak/1147058 |
Rabu, 08 Mei 2013
KRPL Mampu Belanja Keluarga
BALIGE – Program kawasan rumah pangan lestari (KRPL) yang sedang
digalakkan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Toba Samosir, Sumatera
Utara Utara, dinilai mampu menghemat pengeluaran belanja keluarga setiap
bulan.
“Pemanfaatan pekarangan rumah dengan menanam aneka jenis sayuran melalui pengembangan program KRPL bisa menghemat pengeluaran belanja keluarga hingga Rp400 ribu per bulan,” kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Toba Samosir Marsarasi Simanjuntak di Balige, hari ini.
Menurut dia, menanami halaman rumah yang kosong dengan aneka jenis sayuran, dapat memberikan manfaat ganda, sebab selain mendapat keuntungan secara ekonomi, juga membuat suasana hijau, sekaligus meningkatkan keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan.
Saat ini, kata dia, sebanyak 16 Desa pada berbagai Kecamatan di Kabupaten berpenduduk 205.331 jiwa yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera Utara itu, sedang mengembangkan Program KRPL, dengan mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif yang menghasilkan bahan pangan.
Dikatakannya, model KRPL dengan pemanfaatan lahan pekarangan tersebut, bertujuan bagi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, khususnya sayur-sayuran, sehingga beban keluarga dalam penyediaan kebutuhan sehari-hari dapat berkurang.
Selain itu, lanjutnya, guna meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber pangan lokal dengan prinsip gizi seimbang serta mengembangkan kegiatan ekonomi produktif dan kesejahteraan keluarga menuju masyarakat sejahtera, sekaligus terwujudnya diversifikasi pangan dan pelestarian tanaman lokal.
Program percontohan KRPL yang sedang dikembangkan, menurutnya, direspon dengan sangat baik oleh warga, apalagi didukung agroklimat di kawasan tersebut yang sangat potensial untuk pengembangan berbagai komoditi pertanian.
Untuk itu, kata Marsarasi, pada Rabu (8/5) dijadwalkan Bupati Toba Samosir, Kasmin Simanjuntak akan melakukan tanam perdana peningkatan ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pemanfaatan sumberdaya lahan tersedia tersebut di Desa Tanggabatu Barat, Kecamatan Tampahan.
Desa tersebut, lanjutnya, merupakan salah satu desa yang ikut melaksanakan peningkatan ketahanan dan kemandirian serta diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal dan konservasi sumberdaya genetik pangan dengan menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa.
Dikatakannya, sejumlah sarana produksi, seperti bibit sayur Kangkung, Bayam, Sawi, Terong, Cabai dan pupuk kompos akan diserahkan kepada sejumlah kepala keluarga yang ikut dalam program KRPL tersebut.
“Pemanfaatan pekarangan ramah lingkungan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan serta diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal menuju peningkatan pendapatan kesejahteraan masyarakat,” kata Marsarasi.
Editor: SASTROY BANGUN (dat06/anatara)
Sumber: Waspada Online
“Pemanfaatan pekarangan rumah dengan menanam aneka jenis sayuran melalui pengembangan program KRPL bisa menghemat pengeluaran belanja keluarga hingga Rp400 ribu per bulan,” kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Toba Samosir Marsarasi Simanjuntak di Balige, hari ini.
Menurut dia, menanami halaman rumah yang kosong dengan aneka jenis sayuran, dapat memberikan manfaat ganda, sebab selain mendapat keuntungan secara ekonomi, juga membuat suasana hijau, sekaligus meningkatkan keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan.
Saat ini, kata dia, sebanyak 16 Desa pada berbagai Kecamatan di Kabupaten berpenduduk 205.331 jiwa yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera Utara itu, sedang mengembangkan Program KRPL, dengan mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif yang menghasilkan bahan pangan.
Dikatakannya, model KRPL dengan pemanfaatan lahan pekarangan tersebut, bertujuan bagi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, khususnya sayur-sayuran, sehingga beban keluarga dalam penyediaan kebutuhan sehari-hari dapat berkurang.
Selain itu, lanjutnya, guna meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber pangan lokal dengan prinsip gizi seimbang serta mengembangkan kegiatan ekonomi produktif dan kesejahteraan keluarga menuju masyarakat sejahtera, sekaligus terwujudnya diversifikasi pangan dan pelestarian tanaman lokal.
Program percontohan KRPL yang sedang dikembangkan, menurutnya, direspon dengan sangat baik oleh warga, apalagi didukung agroklimat di kawasan tersebut yang sangat potensial untuk pengembangan berbagai komoditi pertanian.
Untuk itu, kata Marsarasi, pada Rabu (8/5) dijadwalkan Bupati Toba Samosir, Kasmin Simanjuntak akan melakukan tanam perdana peningkatan ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pemanfaatan sumberdaya lahan tersedia tersebut di Desa Tanggabatu Barat, Kecamatan Tampahan.
Desa tersebut, lanjutnya, merupakan salah satu desa yang ikut melaksanakan peningkatan ketahanan dan kemandirian serta diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal dan konservasi sumberdaya genetik pangan dengan menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa.
Dikatakannya, sejumlah sarana produksi, seperti bibit sayur Kangkung, Bayam, Sawi, Terong, Cabai dan pupuk kompos akan diserahkan kepada sejumlah kepala keluarga yang ikut dalam program KRPL tersebut.
“Pemanfaatan pekarangan ramah lingkungan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan serta diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal menuju peningkatan pendapatan kesejahteraan masyarakat,” kata Marsarasi.
Editor: SASTROY BANGUN (dat06/anatara)
Sumber: Waspada Online
Jumat, 15 Maret 2013
Urusan izin impor bahan pangan bakal satu pintu
Selama ini, pengurusan izin importasi bahan pangan seperti kedelai, bawang, dan daging sapi membutuhkan rekomendasi dua kementerian. Hal itu disinyalir membuat proses perizinan menjadi lama.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengakui importir kerap mengeluhkan lamanya rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH). Karena itu, selepas menemui Menteri Pertanian Suswono kemarin, kedua pejabat sepakat mengupayakan proses rekomendasi dan perizinan dilakukan lewat satu pintu. Diharapkan pelayanan satu pintu ini, tidak hanya RIPH, namun juga mencakup pengurusan importir terdaftar (IT) dan surat persetujuan impor (SPI).
"Soal RIPH yang ideal menyatukan perizinan seperti BKPM, jadi kalau ada perizinan importir bisa langsung dapat RIPH, IT-nya, SPI-nya, serta kita upayakan transparansi dalam pemberian izin," ujar Gita di Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (14/3).
Mendag menyatakan pihaknya dengan Mentan, sudah masuk dalam pembahasan langkah konkret. Namun, pihaknya harus menyampaikan rencana penyatuan perizinan ini kepada Menko Perekonomian Hatta Rajasa terlebih dulu.
"Besok (rencana penyatuan perizinan impor) akan lebih jelas setelah kita sampaikan kepada atasan kita, Menko Perekonomian," ungkapnya.
Mantan Kepala BKPM itu enggan membocorkan di kementerian mana proses perizinan satu pintu ini dilakukan. Selama ini, RIPH merupakan wilayah Kementan, sementara IT dan SPI adalah tanggung jawab Kemendag.
"Enggak tahu (di kementerian mana), komunikasi batin masih harus dilakukan," kata Gita berseloroh.
Terkait keluhan Kementan bahwa RIPH lambat diproses akibat jumlah IT terlalu banyak, Gita berjanji akan menelusuri laporan tersebut. Disinyalir beberapa importir berizin sebenarnya tidak kapabel untuk mendatangkan barang dari luar negeri. "Kita akan kaji ulang penerima IT benar-benar laik tidak," tegasnya.
Salah satu imbas dari lamanya proses RIPH adalah kasus kontainer bawang tertahan di Tanjung Perak, Surabaya. Berdasarkan pengakuan importir, mereka sudah mendapat salinan RIPH, sehingga memberanikan diri mendatangkan barang meski belum benar-benar ada surat resmi bahwa mereka diizinkan mengimpor.
"RIPH-nya baru keluar 5 Februari kemarin, padahal kita sudah terima dari supplier. Kita harap pemerintah mau bantulah, kita juga kondisinya sudah terjepit, sedangkan biaya keluar terus. Kita rugi cukup banyak per hari itu satu kontainer Rp 2,5 juta (ruginya)," ungkap Sonny Kurniawan, salah satu importir yang bermasalah kemarin..
Alhasil, kini 760 kontainer malah tertahan di pelabuhan dan membuat pemerintah kebakaran jenggot. Sebanyak 300 kontainer berisi khusus bawang putih, sementara sisanya adalah buah-buahan dan kentang.
[arr]
Rabu, 06 Maret 2013
Kemendag Gandeng UIA untuk Edukasi Konsumen
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Gita Wirjawan
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perdagangan RI dan Universitas Islam As-Syafi iyah (UIA) dan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Selasa (26/2/2013), menyekapati nota kesepahaman mengenai Edukasi Konsumen Cerdas dan Perubahan Pola Konsumsi.
Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Rektor UIA yang juga merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat BKMT, Tutty Alawiyah, di kampus UIA, Pondok Gede, Bekasi.
Dalam nota kesepahaman, kedua pihak sepakat untuk menyusun rencana aksi jangka pendek dan jangka menengah, serta berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lainnya, dalam hal melakukan edukasi di bidang perlindungan konsumen dan perubahan pola konsumsi.
Selain menandatangani nota kesepahaman, Mendag juga melakukan kuliah umum mengenai perekonomian Indonesia dan global, serta perlindungan konsumen dan perubahan pola konsumsi. Kunjungan kali ini juga dilakukan sekaligus untuk silaturahim dengan jamaah BKMT.
Mendag menggarisbawahi pentingnya edukasi konsumen, agar masyarakat paham akan hak-haknya sebagai konsumen. " Khususnya saat ini, ketika ekonomi Indonesia tumbuh sangat pesat. Masyarakat konsumen harus waspada terhadap serbuan produk impor yang tidak sesuai dengan standar," ujarnya.
Gita juga menekankan pentingnya merubah pola konsumsi. Dalam kuliah umum yang disampaikannya di UIA, ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menempati urutan ke-4 sebagai negara yang memiliki penderita penyakit diabetes mellitus terbanyak di dunia. Ini karena pola konsumsi masyarakat kita yang masih banyak mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung gula, termasuk salah satunya nasi dan tentunya gula.
Ia meyakini bahwa perubahan pola konsumsi akan meningkatkan pemenuhan keseimbangan gizi masyarakat menuju pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA). Selain itu, diversifikasi pangan juga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya membantu mengendalikan ketersediaan dan stabilisasi harga bahan pokok.
Editor :
Selasa, 12 Februari 2013
Mentan Targetkan Impor Daging Sapi 15 Persen
KOMPAS/PRIYOMBODO
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian menargetkan persentase impor daging terus menyusut dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, impor daging di atas 50 persen dari kebutuhan nasional. Tahun 2013, target impor menjadi 15 persen.
"Target tahun 2014, importasi daging tinggal 10 persen. Tadinya ketika saya baru masuk ke Kementerian Pertanian, importasi di atas 50 persen. Dampaknya bagi peternak, harga bobot hidupnya rendah sekali sehingga tidak ada orang bergairah untuk beternak," kata Suswono.
Tahun 2012, ujar Suswono, impor daging sapi sebanyak 19 persen. Tahun ini, targetnya maksimal 15 persen. Target impor maksimal 15 persen pada tahun ini adalah 80.000 ton, terdiri dari 32.000 ton daging sapi dan sapi bakalan setara dengan 48.000 ton daging.
Pertimbangan kuota impor 80.000 ton tersebut, kata Suswono, didasarkan atas kajian para ahli dan pakar dari perguruan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa produksi domestik bisa memenuhi sampai 85 persen kebutuhan nasional.
Harga Daging Sapi Diprediksi Capai Rp140 Ribu
Senin, 11 Februari 2013 15:52 wib
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Sulitnya mendapatkan pasokan daging sapi
membuat harga daging sapi yang dijual di pasaran semakin mahal. Harga
daging sapi diperkirakan akan semakin meroket saat hari raya di 2013
ini.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi memperkirakan harga daging sapi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2013 akan mencapai Rp100 ribu sampai Rp125 ribu per kilogram (kg).
Menurutnya, harga daging yang melambung tersebut lantaran suplai dan permintaan yang tidak memiliki keseimbangan. Dia menjelaskan, hal ini akan menyebabkan pasokan langka dan harga mengalami kenaikan.
"Diperkirakan harga daging sapi jelang Lebaran Rp100 ribu sampai Rp125 ribu," kata Bachrul, di Gedung DPR-RI Komisi IV, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2013).
Di tempat yang sama, Anggota Komisi IV DPR Anton Sihombing memperkirakan angka tersebut diperkirakan akan melebihi perkiraan pemerintah. Dia menaksir, harga daging menjelang Idul Fitri 2013 akan mencapai Rp140 ribu per kilonya. Anton menilai melambungnya harga sangat mungkin terjadi, jika swasembada tidak kunjung tercapai.
"Saya lihat tadi harga daging saja sudah ada yang sampai Rp100 ribu per kg. Justru saya memperkirakan Idul Fitri nanti harganya tembus Rp125 sampai Rp140 ribu," tukas dia. (mrt)
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi memperkirakan harga daging sapi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2013 akan mencapai Rp100 ribu sampai Rp125 ribu per kilogram (kg).
Menurutnya, harga daging yang melambung tersebut lantaran suplai dan permintaan yang tidak memiliki keseimbangan. Dia menjelaskan, hal ini akan menyebabkan pasokan langka dan harga mengalami kenaikan.
"Diperkirakan harga daging sapi jelang Lebaran Rp100 ribu sampai Rp125 ribu," kata Bachrul, di Gedung DPR-RI Komisi IV, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2013).
Di tempat yang sama, Anggota Komisi IV DPR Anton Sihombing memperkirakan angka tersebut diperkirakan akan melebihi perkiraan pemerintah. Dia menaksir, harga daging menjelang Idul Fitri 2013 akan mencapai Rp140 ribu per kilonya. Anton menilai melambungnya harga sangat mungkin terjadi, jika swasembada tidak kunjung tercapai.
"Saya lihat tadi harga daging saja sudah ada yang sampai Rp100 ribu per kg. Justru saya memperkirakan Idul Fitri nanti harganya tembus Rp125 sampai Rp140 ribu," tukas dia. (mrt)
Sumber: Okezone
Senin, 04 Februari 2013
Pangan Lokal Gantikan Raskin
AMBON, KOMPAS.com- Pangan lokal di Maluku, yaitu sagu dan embal (ubi kayu), telah tuntas dikaji guna dipersiapkan menggantikan beras untuk rakyat miskin (raskin).
Pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Prof Julius Elseos Louhenapessy, di Ambon, Senin (4/2/2013), mengatakan, penelitian sagu dan embal itu dilakukan oleh Fakultas Pertanian Unpatti bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Maluku.
Penelitian dilakukan selama enam bulan sejak pertengahan tahun 2012, di dua kabupaten di Maluku, yaitu Maluku Tengah dan Maluku Tenggara. Di Maluku Tengah, penelitian difokuskan pada sagu karena sagu banyak tumbuh di sana, juga masih banyak dikonsumsi oleh warganya. Sagu yang diolah dalam bentuk sagu lempeng dicampur dengan ikan, ada pula yang dicampur dengan kacang.
Sedangkan di Maluku Tenggara, penelitian difokuskan pada embal. Embal juga dipilih karena banyak dibuat dan dikonsumsi oleh warga di sana. Embal kemudian dicampur dengan kacang.
Menurut Louhenapessy, memadukan pangan lokal dengan makanan lain merupakan cara agar masyarakat tertarik dengan makanan itu. Selain itu, agar pangan lokal lebih kaya gizi,
Hasil penelitian itu telah diserahkan ke Badan Ketahanan Pangan Maluku yang kemudian dilanjutkan ke Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat yang memutuskan apakah pangan lokal itu bisa menggantikan raskin.
Editor :
Bikin Perda untuk Lestarikan Sagu!
TERNATE, KOMPAS.com - Para pemerhati pangan lokal di Maluku Utara (Malut) meminta kepada pemerintah daerah (pemda) setempat baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota mengeluarkan regulasi perlindungan tanaman sagu guna menjaga kelestariannya.
"Sagu merupakan pangan lokal dan menjadi makanan tradisional masyarakat Malut, untuk itu harus dijaga pelestariannya dengan cara mengeluarkan regulasi mengenai perlindungan tanaman itu," kata seorang pemerhati pangan lokal di Malut, Suratman di Ternate, Kamis (13/12/2012).
Regulasi perlindungan tanaman sagu tersebut sebaiknya dalam bentuk peraturan daerah (Perda) agar lebih memiliki kekuatan hukum dalam pelaksanaannya. Perda itu bisa dikeluarkan oleh DPRD Provinsi, bisa pula oleh setiap DPRD kabupaten/kota di Malut.
Ia mengatakan, lahan tanaman sagu di Malut disinyalir telah banyak dialihfungsikan, seperti menjadi lahan pertanian untuk transmigran, sehingga kalau tidak ada regulasi yang melindungi keberadaan sagu, maka tanaman itu bisa punah.
Adanya perda perlindungan sagu tersebut juga akan mendorong pemda dan pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan yang sifatnya mendukung pengembangan tanaman sagu.
Peran tanaman sagu di Malut, kata Suratman, sangat strategis karena selama ini telah menjadi salah satu penopang terciptanya ketahanan pangan di daerah ini, bahkan telah menjadi penolong masyarakat setempat di saat harga beras melonjak.
Masyarakat di Malut selama ini tidak pernah khawatir jika harga beras melonjak atau pasokan beras dari luar Malut, karena mereka sudah terbiasa mengonsumsi sagu sebagai salah satu sumber pangan sehari-hari.
Ia menambahkan, pemda di Malut juga harus terus mendorong penciptaan teknologi pengolahan sagu, termasuk pembuatan makanan dari bahan sagu yang lebih menarik baik dari segi citarasa maupun bentuk, sehingga tetap menarik sebagai sumber pangan bagi masyarakat setempat.
Generasi muda di Malut, terutama anak-anak belakangan ini lebih menyukai produk makanan siap saji dari Negara luar atau kue dari pabrik.
Karena itu, mereka harus didorong untuk menyukai pula pangan lokal dari sagu dengan cara menyajikannya secara menarik dengan citarasa yang enak.
Sumber :
Editor :
Pangan Lokal Bisa Mencukupi Kebutuhan Gizi
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mewakili Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, membuka Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi X di Auditorium
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Kegiatan ilmiah ini diselenggarakan empat tahun sekali.
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan gizi tak selalu harus dicukupi dengan sumber pangan mahal yang biasa ditawarkan dalam beragam publikasi gaya hidup kesehatan. Pangan lokal pun bisa membantu mencukupi kebutuhan gizi.
Menteri Kesehatan Dr Nafisah Mboi dalam acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke X bertajuk "Pemantapan Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat Berbasis Kemandirian dan Kearifan Lokal", Selasa (20/11/2012), mengatakan hal tersebut.
"Ada banyak makanan bergizi dari lokal. Sebagai contoh, di Nusa Tenggara Timur, terdapat jagung dan singkong yang juga bisa dimanfaatkan sebagai makanan pokok," katanya.
Pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung kebutuhan gizi, kata Nafsiah, akan membantu masyarakat mengakses pangan bergizi. Dengan penggunaan pangan lokal, masyarakat tak perlu tergantung daerah lain untuk mencukupi kebutuhan gizinya.
Menurut Nafsiah, tantangan pemanfaatan pangan lokal adalah mitos dan pandangan bahwa pangan impor atau dari daerah lain lebih bergengsi atau bergizi.
"Masih ada mitos-mitos. Misalnya kalau anak memakan ikan, maka akan menyebabkan cacingan. Dulu, orang NTT makan jagung dan singkong, tapi melihat saudaranya di Jawa makan beras, mereka lalu merasa kalau sudah maju makan beras," paparnya.
Nafsiah menegaskan, upaya diversifikasi pangan untuk mendukung perbaikan gizi dan ketahanan pangan perlu terus dilakukan.
"Kita juga perlu menyadarkan dan mengubah pola pikir masyarakat bahwa makan bukanlah sekedar makan nasi dan asal kenyang melainkan harus ada keseimbangan gizi," jelas Nafsiah. Salah satu target perbaikan gizi adalah penghapusan orang pendek pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia.
Editor : yunan
Langganan:
Postingan (Atom)