Cari

Loading

Kamis, 29 November 2012

Penganekaragaman Pangan Indonesia Harus Terus Digalakkan

(Analisa/khairil umri) Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Pusat Achmad Suryana (kanan) didampingi
staf ahli pemprovsu Arsyad Lubis (kiri) meninjau salah satu stand pada gelaran Forum dan Expo Pangan
Gebyar Kuliner Nusantara di Medan, Selasa (27/11). Acara yang menampilkan hasil olahan kuliner dari berbagai jenis panganan ini berlangsung hingga 30 November mendatang.
 
Medan, (Analisa). Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang setiap tahunnya semakin tidak terbendung harus dibarengi dengan kemantapan dan kemandirian pangan. Pasalnya, konsumsi pangan yang lebih beragam tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan gizi, melainkan juga menunjang terwujudnya kedaulatan pangan secara nasional. Maka itu, penganekaragaman pangan perlu digalakkan untuk menghindari dari ancaman kemiskinan dan kerentanan pangan.
Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Suswono yang diwakili Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Pusat, Achmad Suryana dalam acara pembukaan Forum dan Expo Pangan Gebyar Kuliner Nusantara yang digelar BKP Provinsi Sumatera Utara di Tiara Convention Center Medan, 27-30 November 2012.

Ahcmad menjelaskan, pemerintah sangat memahami situasi pangan secara nasional. Swasembada pangan mulai dari beras, jagung, daging dan gula harus dapat dipertahankan karena semakin bertambahnya penduduk yang menuntut ketersediaan sumber pangan yang cukup agar tidak terjadi kerentanan maupun krisis pangan.

"Guna mencegah terjadinya kerentanan pangan, hal yang perlu dilakukan dengan penganekaragaman atau diversifikasi pangan. Sebab, masyarakat tidak hanya akan bergantung pada satu bahan pangan, seperti beras," jelasnya, Selasa (27/11).

Menurutnya, selain beras, masih ada sumber pangan yang sangat potensial untuk menggantikan beras, yakni dengan menggali dan memasyarakatkan kembali kearifan budaya lokal manggadong.

Melalui pola konsumsi pangan yang lebih beragam dan mengurangi konsumsi beras, maka asupan gizi setiap orang bisa terpenuhi.

Sebab, semakin beragam konsumsi pangan, maka konsumsi beras bisa berkurang dan ketersediaan pangan bisa terjamin.

Dia mengungkapkan, dengan mengubah pola makan menjadi lebih beragam dan penurunan konsumsi beras sebesar 1,5 persen per tahun, akan mendukung target surplus produksi beras 10 juta ton pada tahun 2014. Maka itu, Indonesia yang sebelumnya merupakan negara importir beras, secara perlahan bisa dirubah menjadi eksportir beras.

"Hal itu tidak akan terjadi jika konsumsi pangan dari beras kita masih sangat tinggi," ungkapnya.

Diversifikasi

Lebih lanjut kata dia, sosialisasi diversifikasi pangan harus terus digalakkan dengan mencanangkan program one day no rice, mengkonsumsi manggadong maupun sumber pangan lain yang potensial untuk menggantikan konsumsi beras.

"Penganekaragaman pangan berdasarkan budaya lokal, seperti manggadong yang berasal dari budaya Tapanuli dapat menjadi contoh nyata dari upaya mensukseskan program diversifikasi pangan tersebut," katanya.

Sementara itu, Kepala BKP Provsu, Setyo Purwadi mengatakan, masyarakat Sumut harus bangga karena konsumsi ubi jalar atau yang biasa dikenal dengan manggadong sudah ditetapkan sebagai ikon diversifikasi pangan nasional pada September lalu.

"Program manggadong tersebut juga sangat tepat untuk diversifikasi pangan sebab memiliki akar budaya yang digali dari kearifan lokal masyarakat Tapanuli," katanya.

Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho yang diwakili Staf Ahli Pemprovsu, Arsyad Lubis menambahkan, pertumbuhan penduduk, perubahan iklim sangat mempengaruhi produksi pangan perlu menjadi perhatian serius semua pihak.

"Lahan potensial untuk pengembangan pangan juga perlu dipertahankan. Maka itu, penganekaragaman pangan merupakan keharusan. Dengan itu, produksi pangan kita tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi menjadi harapan ketika cadangan pangan kita cukup banyak, kita dapat menjadi penyedia sumber pangan secara global," tambahnya. (ik)

Sumber: Harian Analisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar