Kupang, (Analisa). Gereja-gereja sedunia
terus mendorong adanya kecukupan dan ketahanan pangan bagi seluruh umat
manusia karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bisa
hidup.
"Tidak terpenuhinya
kebutuhan tersebut akan berdampak fatal bagi kelangsungan hidup
seseorang. Bisa mengakibatkan kematian. Maka hak atas pangan menjadi
bagian penting dari hak asasi manusia yang harus terpenuhi," kata Pastor
Paroki Sta Maria Assumta, RM Rudy Thung Lake, di Kupang, Minggu
(14/10). Ia mengatakan hal ini berkaitan dengan hari Pangan Sedunia ke-32 yang serentak diperingati seluruh Gereja universal termasuk Indonesia pada setiap tanggal 16 Oktober, sebagai salah satu gerakan kepedulian terhadap pengadaan pangan.
"Gerakan ini dirasakan semakin mendesak untuk saat ini. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, tidak diimbangi dengan peningkatan pangan bahkan ada kecenderungan menurun, akan mengakibatkan krisis pangan bagi penghuni bumi ini.
Penurunan jumlah produksi pangan, terjadi karena laju pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian begitu tinggi.
Hal ini bisa kita lihat langsung di tempat kita ini. Sawah yang dulu terbentang luas di sekitar Kota dan Kabupaten Kupang dan sekitarnya ini, kini mulai dan terus berkurang, terdesak oleh kebutuhan tempat tinggal.
Suatu Saat Habis Lahan Pertanian
"Dan kita boleh yakin bahwa di suatu saat nanti jika tidak ada pengendalian yang serius soal ini, habis sudah lahan pertanian di kota kita ini," katanya.
Hal ini kiranya yang mendasari Food and Agriculture Oganization (FAO) atau Badan PBB untuk urusan pangan yang pada Nopember 1976 di Roma yang memutuskan untuk dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia).
Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, menetapkan bahwa mulai tahun 1981 segenap negara anggota FAO setiap tanggal 16 Oktober memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS).
Perlu juga diketahui bahwa tanggal 16 Oktober adalah hari ber-dirinya FAO. Tujuan dari peringatan HPS tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik ditingkat global, regional maupun nasional.
FAO membuat gerakan kepedulian terhadap pengadaan pangan. Gerakan ini dirasakan semakin mendesak untuk saat ini. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, tidak diimbangi dengan peningkatan pangan bahkan ada kecenderungan menurun, akan mengakibatkan krisis pangan bagi penghuni bumi ini.
Penurunan jumlah produksi pangan, terjadi karena laju pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian begitu tinggi.
Hal ini bisa kita lihat langsung di tempat kita ini. Sawah yang dulu terbentang luas di sekitar kota Kupang dan Kabupaten Kupang dan daerah sentra produksi beras lainnya ini, kini mulai dan terus berkurang, terdesak oleh kebutuhan tempat tinggal. (Ant)
Sumber: Harian Analisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar