JAKARTA (Pos Kota)-Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan, masyarakat Indonesia semakin mengalami ketergantungan terhadap beras. Padahal bahan pangan lain sebagai pengganti beras sangat melimpah seperti ubi, jagung, talas dan lain-lain.
“Ketergantungan hanya pada bahan pangan beras ini sebenarnya sangat rawan mengingat stok beras dunia dari waktu ke waktu semakin menipis,” katanya, kemarin.
Konsumsi rata-rata beras masyarakat Indonesia perkapita pertahun sekitar 139 kg. Jumlah ini sangat besar dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang rata-rata hanya mengkonsumsi beras sekitar 70 kg perkapita pertahun.
Apalagi saat ini sekitar 90 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras. Tentu dengan jumlah penduduk yang besar kebutuhannya juga sangat besar.
Seharusnya masyarakat mulai membiasakan kembali mengkonsumsi pangan selain beras. Sebab l komoditas pangan sumber karbohidrat di negeri ini sangat beragam, baik yang tergolong serealia seperti jagung, sorgum, hanjeli dan hermada, maupun aneka umbi seperti ubikayu, ubijalar, talas, gadung, gembili, suweg, iles-iles, kentang, garut dan ganyong..
Jika hal itu dilakukan, diharapkan konsumsi beras rata-rata beras masyarakat bisa diturunkan. Dampak selanjutnya produksi beras dalam negeri bisa berlebih sehingga sisasnya bisa diekspor.
Diversifikasi pangan yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ini ternyata salah arah. Konsumsi terigu yang berbahan gandum justru mengalami peningkatan drastis yakni 500 persen dalam 30 tahun terakhir. Padahal bahan baku terigu berupa gandum berasal dan bahan impor sehingga sangat menguras devisa.
Jika saja masyarakat semakin banyak mengkonsumsi umbi-umbian atau jagung maka diharapkan kesejahteraan petani meningkat dan devis negara bisa ditingkatkan dari ekspor beras. (faisal/b)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar