Cari

Loading

Jumat, 19 Agustus 2011

Isu Keragaman Pangan Cuma Ngetrend di Indonesia


Jakarta - Keanekaragaman (diversifikasi) jenis bahan pangan untuk dikonsumsi sebenarnya bukan isu dunia di bidang ketahanan pangan. Diversifikasi pangan hanya menjadi milik Indonesia yang budayanya adalah makan nasi.

Demikian disampaikan Sekertaris Menteri Koordinator Kesejagteraan Rakyat, Indroyono Susilo dalam diskusi ketahanan pangan untuk mengatasi kemiskinan di hotel Cemara, Menteng, Rabu (27/7/2011).

"Saya kalau saya jualan di FAO, tidak laku karena isu keanekaragaman pangan isu cuma milik Indonesia," katanya.

Menurut Indroyono, faktor kebudayaan masyrakat Indonesialah yang menhadi faktor penunjang Indonesia sangat sulit untuk diversifikasi pangan. Kebanyakan masyarakat Indonesia harus selalu memakan nasi di setiap waktu makannya.

"Pagi makan kentang, timun, pakai nasi. Siang, makan daging, mie, pakai nasi. Malam juga seperti itu," ujarnya.

Indroyono menjelaskan, Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan yang sangat beragam dan dari tanaman tersebut banyak sekali tanaman pangan yang mengandung sumber karbohidrat yang dapat dikonsumsi untuk menggantikan nasi. Menurutnya, ada sekitar 60 jenis bahan pangan sumber karbohidrat yang ada di Indonesia.

"Orang Indonesia kebanyakan makan nasi, padahal ada 60 jenis makanan karbohidrat, dari kentang, singkong, sagu, terigu, dan lain-lain, tapi semua makan nasi," imbuhnya.

Indroyono mengungkapkan, Indonesia masih kalah jauh dalam urusan diversifikasi dari Jepang yang sudah mampu mengurangi konsumsi beras sampai dengan di bawah 100 kg per kapita per kg. Konsumsi beras Indonesia masih sekitar 139 kg per kapita per tahun.

"Kita masih 139 kg per kapita per tahun. Kalau bisa di bawah 100 kg per kapita per tahun saja sebenarnya it suda bagus," ungkapnya.


(ade/qom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar