Cari

Loading

Jumat, 22 Maret 2013

Raskin Dinilai Matikan Makanan Pokok Lain




Metrotvnews.com, Jakarta: Program pembagian beras murah pada rakyat miskin (raskin) dinilai telah merusak upaya diversifikasi pangan dan menurunkan tingkat perekonomian petani yang menanam tanaman lain, selain padi.

"Program Raskin sebaiknya ditinjau kembali. Pembagian bahan makanan sebaiknya disesuaikan dengan makanan pokok masing-masing daerah," sebut Ketua Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Oesman Sapta, di Jakarta, Sabtu (16/3) malam.

Lewat program Raskin, sebetulnya sama saja bahwa pemerintah telah mematok mengonsumsi nasi adalah alat ukur kesejahteraan. Imbasnya bahan makanan lain, yang dulu kerap dijadikan makanan pokok seperti. ubi, sagu, jagung, tiwul, gaplek terpinggirkan.

"Timbul persepsi di masyarakat, kalau tidak makan nasi, berarti hidupnya kurang sejahtera," imbuh Oesman.

Menurut dia, tidak semua wilayah mudah dijangkau untuk distribusi Raskin. Pembagian beras ini juga menyebabkan hasrat petani sagu, jagung dan lainya untuk bercocok tanam menjadi menurun. Padahal tidak semua daerah di negeri kita cocok untuk ditanami padi.

Berkaca dari kondisi tersebut, HKTI mengusulkan sebaiknya pemerintah menggulirkan program kredit murah bagi petani untuk mengakses modal, sehingga kelangsungan bercocok tanam mereka terjamin. Selain itu juga diminta dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari perusahaan-perusahaan BUMN untuk bidang pertanian ditingkatkan.

Menanggapi hal ini, sebelumnya Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat Adang Setiana mengatakan, rumah tangga sasaran (RTS) penerima Raskin pada 2013 ini berkurang sekitar 2 juta RTS.

Jika tahun sebelumnya RTS penerima Raskin berjumlah 17,4 juta, pada tahun ini diturunkan menjadi 15,5 juta RTS. Selain itu, tambah Adang, kualitas beras Raskin yang didistribusikan pada tahun ini juga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Penurunan jumlah penerima Raskin, menurut Adang, disesuaikan dengan adanya penurunan data kemiskinan menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), yang melaporkan angka kemiskinan pada September 2012 menurun menjadi 11,66% dibandingkan 2008 yang mencapai 15,42%. (Cornelius Eko Susanto/Adf)

Editor: Asnawi Khaddaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar