Jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton.
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku sangat serius dalam mengkampanyekan program pengurangan konsumsi beras, bukan hanya kepada masyarakat luas tetapi juga kepada koleganya para menteri di kabinet.
"Menteri-menteri sungkan makan nasi di depan saya," katanya dalam makan siang dengan pimpinan media massa di Jakarta, Rabu, dengan menu sup sayur-sayuran, ikan, daging, somay, dan bagi yang tetap harus makan nasi disediakan sedikit nasi merah.
Gita sendiri ingin menjadi contoh dalam kampanye pengurangan konsumsi beras ini.
"Saya tiap pagi sarapan singkong. Siang makan nasi merah. Malam sudah tidak makan nasi lagi," katanya seraya memperlihatkan tubuhnya yang tampak tetap bugar meski mengurangi konsumsi beras.
"Saya sudah turun 8 kg sejak saya belajar mengenai fakta-fakta yang agak mengkhawatirkan mengenai konsumsi nasi yang berlebihan," katanya seperti sering dikutip media.
Ia wanti-wanti menyatakan bahwa kampanyenya itu bukan melarang makan nasi, melainkan untuk mengkonsumsi pangan selain beras seperti singkong dan ubi untuk menjaga kesehatan.
"Catat ya, bukan melarang makan nasi, tapi supaya masyarakat lebih sehat. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kasus diabetes di Indonesia itu nomor empat di dunia karena konsumsi gula dan karbohidratnya luar biasa," kata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.
Data Kementerian Perdagangan menyebutkan konsumsi beras Indonesia 140 kg per orang per tahun. Itu jaiuh di atas angka-angka konsumsi beras di Vietnam, Thailand dan Malaysia yang hanya berkisar 65-70 kg.
Menurut Gita, jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton.
Untuk menambal kekurangan beras dalam negeri, Indonesia terpaksa impor tiga juta ton per tahun. "Jika kita bisa menghemat 10 juta ton, maka kita tidak usah impor tiga juta ton. Sebaliknya malah bisa ekspor tujuh juta ton," kata penggemar golf dan musik jazz itu.
Tantangannya adalah bagaimana melakukan substitusi pangan untuk mengisi porsi 40 kg yang kadang-kadang membuat perut orang menjadi gendut.
"Kalau kebanyakan makan sampai 140 kg beras per orang per tahun, ini menyebabkan penyakit diabetes," katanya mengingatkan.
Kalau mau sehat, imbaunya, mulailah mengkonsumsi makanan yang beragam tidak selalu beras.
Ia menyambut baik kebijakan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang memulai dengan menggelar program "One Day No Rice". Kebijakan Walikota itu melarang pegawai negeri sipil (PNS) Depok mengkonsumsi nasi pada hari Selasa.
"Itu baik, namun sebaiknya bukan larangan, tapi imbauan," katanya.
Gita yang baru pulang dari kunjungan ke Amerika Latin memberi contoh Brazil yang sukses mengkampanyekan pentingnya protein dan mengkonsumsi daging. Sekarang Brasil sudah menjadi produsen sapi terbesar dan ekspor dagingnya sudah sampai ke China dan Indonesia.
"Saatnya kita berfikir bagaimana menurunkan pola konsumsi yang kurang sehat dan menaikkan pola yang menyehatkan," kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
(A017/A023)
"Menteri-menteri sungkan makan nasi di depan saya," katanya dalam makan siang dengan pimpinan media massa di Jakarta, Rabu, dengan menu sup sayur-sayuran, ikan, daging, somay, dan bagi yang tetap harus makan nasi disediakan sedikit nasi merah.
Gita sendiri ingin menjadi contoh dalam kampanye pengurangan konsumsi beras ini.
"Saya tiap pagi sarapan singkong. Siang makan nasi merah. Malam sudah tidak makan nasi lagi," katanya seraya memperlihatkan tubuhnya yang tampak tetap bugar meski mengurangi konsumsi beras.
"Saya sudah turun 8 kg sejak saya belajar mengenai fakta-fakta yang agak mengkhawatirkan mengenai konsumsi nasi yang berlebihan," katanya seperti sering dikutip media.
Ia wanti-wanti menyatakan bahwa kampanyenya itu bukan melarang makan nasi, melainkan untuk mengkonsumsi pangan selain beras seperti singkong dan ubi untuk menjaga kesehatan.
"Catat ya, bukan melarang makan nasi, tapi supaya masyarakat lebih sehat. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kasus diabetes di Indonesia itu nomor empat di dunia karena konsumsi gula dan karbohidratnya luar biasa," kata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.
Data Kementerian Perdagangan menyebutkan konsumsi beras Indonesia 140 kg per orang per tahun. Itu jaiuh di atas angka-angka konsumsi beras di Vietnam, Thailand dan Malaysia yang hanya berkisar 65-70 kg.
Menurut Gita, jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton.
Untuk menambal kekurangan beras dalam negeri, Indonesia terpaksa impor tiga juta ton per tahun. "Jika kita bisa menghemat 10 juta ton, maka kita tidak usah impor tiga juta ton. Sebaliknya malah bisa ekspor tujuh juta ton," kata penggemar golf dan musik jazz itu.
Tantangannya adalah bagaimana melakukan substitusi pangan untuk mengisi porsi 40 kg yang kadang-kadang membuat perut orang menjadi gendut.
"Kalau kebanyakan makan sampai 140 kg beras per orang per tahun, ini menyebabkan penyakit diabetes," katanya mengingatkan.
Kalau mau sehat, imbaunya, mulailah mengkonsumsi makanan yang beragam tidak selalu beras.
Ia menyambut baik kebijakan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang memulai dengan menggelar program "One Day No Rice". Kebijakan Walikota itu melarang pegawai negeri sipil (PNS) Depok mengkonsumsi nasi pada hari Selasa.
"Itu baik, namun sebaiknya bukan larangan, tapi imbauan," katanya.
Gita yang baru pulang dari kunjungan ke Amerika Latin memberi contoh Brazil yang sukses mengkampanyekan pentingnya protein dan mengkonsumsi daging. Sekarang Brasil sudah menjadi produsen sapi terbesar dan ekspor dagingnya sudah sampai ke China dan Indonesia.
"Saatnya kita berfikir bagaimana menurunkan pola konsumsi yang kurang sehat dan menaikkan pola yang menyehatkan," kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
(A017/A023)
Editor: Ella Syafputri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar