Cari

Loading

Rabu, 29 Februari 2012

Kebun Gizi untuk Keluarga

"Tak dapat dimungkiri ada hubungan erat antara status gizi keluarga dan keanekaragaman pangan dari kebun gizi di pekarangan"
DI Jateng, kita menemukan kenyataan bahwa luas sawah produktif makin menyusut karena beralih fungsi untuk industri, jalan, dan perumahan. Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Jateng Aris Budiono mengatakan, Dinas Pertanian mencatat rata-rata lahan yang beralih fungsi 600-750 hektare per tahun (www.bkprn.org).
Data itu bisa kita terjemahkan, pada saat sawah menyusut, luas pekarangan justru bertambah karena bertambahnya jumlah rumah yang dibangun. Tetapi kalau kita perhatikan pekarangan, baik di kota maupun di desa, banyak yang belum dimanfaatkan. Padahal bila ditanami berbagai jenis tanaman dapat bermanfaat secara ekologis dan ekonomis.
Di pekarangan rumah, kita bisa membuat kebun gizi keluarga. Memang strata pekarangan yang umumnya sempit, terutama di kota, menyebabkan orang berpendapat bagaimana mungkin menghasilkan pangan dari lahan yang sudah sedemikian sempit, bahkan penuh bangunan. Karena itu, kita perlu melakukan budi daya pekarangan dengan cara intensifikasi sebagai pekarangan gizi atau kebun gizi yang memenuhi kebutuhan keluarga.
Misalnya, pagar pekarangan dimanfaatkan untuk tanaman merambat yang bersifat musiman yang hasilnya bisa dipanen untuk kebutuhan dapur. Tanaman bumbu dapur seperti cabe, jahe, kunyit, kencur, temu kunci, bawang, merica, sawi, kangkung, bayam, atau kemangi dapat ditanam di tanah, dalam pot atau polibag dengan memanfaatkan bahan-bahan sisa seperti bekas kemasan refill minyak goreng ukuran 1 liter.
Sayur-sayuran dan bumbu dapur yang dihasilkan sendiri dari kebun gizi selain dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan biaya murah dan lebih pasti dijamin kesehatannya, bila lebih juga dapat dijual pada tetangga yang membutuhkan.
Dalam memilih sayur-sayuran kita bisa mendasarkan pada  pertimbangan efisiensi produksi, terutama kandungan zat gizi dan frekuensi panen yang tinggi. Karena itu, pilihannya bisa jatuh pada tanaman sayur hijau karena bisa memasok kebutuhan zat gizi yang penting seperti zat besi, vitamin A, vitamin C, dan protein.
Sumber zat-zat gizi yang disebutkan itu dapat diperoleh dari bayam, daun singkong, sawi, kangkung, kacang panjang, kecipir, kelor, daun katuk, dan lain-lain. Sayur-sayuran hijau yang dihasilkan dapat mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro yang banyak ditemui di Indonesia seperti kekurangan vitamin A dan zat besi.
Status Gizi
Tak dapat dimungkiri ada hubungan erat antara status gizi keluarga dan keanekaragaman pangan dari kebun gizi di pekarangan. Sebagian asupan zat gizi seperti kalori, protein, vitamin, dan mineral dapat dipasok dari pekarangan dan dapat menjadi benteng yang melindungi keluarga dari dampak  krisis pangan dan lonjakan harga pangan. Bahan pangan yang bisa dipenuhi dari pekarangan juga menurunkan pengeluaran keluarga bahkan hingga 50%.
Pembuatan kebun gizi keluarga tidak memerlukan banyak syarat karena hanya butuh cahaya, air, dan tanah. Cahaya matahari bukan masalah sehingga sangat mungkin menanam berbagai jenis sayuran hijau sepanjang tahun. Air memang dibutuhkan tetapi untuk tanaman sayur-sayuran dan bumbu dapur tidak perlu banyak air, seperti padi di sawah. Adapun tanah sebagai media tanam bisa dilakukan di lahan terbuka atau mengunakan pot yang diisi tanah dan pupuk kompos.
Dari kebun gizi keluarga, kita bisa memanen buah, sayur, bumbu dapur, tanaman obat-obatan, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Bahkan pekarangan bisa menjadi ’’pabrik daging’’ karena bisa dimanfaatkan untuk beternak ayam kampung, ayam petelur,  puyuh, kelinci, ikan, dan lele.
Kebun gizi di pekarangan merupakan pengembangan kegiatan ekonomi produktif, menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat, serta menunjang ketahanan pangan keluarga. Masyarakat Jateng bisa membangun kehidupan keluarga yang lebih sehat dengan mengonsumsi pangan bergizi dari kebun di pekarangan. (10)

Norbertus Kaleka, alumnus Fakultas Pertanian UGM, pemerhati masalah pangan dan gizi keluarga (/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar