JAKARTA--MICOM: Singkong sebagai tanaman umbi-umbian dapat menggantikan posisi beras sebagai makanan pokok masyarakat. Potensi singkong pun lebih mudah diproduksi dan dijadikan produk olahan lainnya.
"1 hektare (ha) kebun singkong bisa memproduksi 100 ton, sedangkan padi saja hanya 5 ton. Jadi lebih untung singkong dan lebih mudah, walaupun dari segi keilmuan singkong itu rakus tanah jadi haus diimbangi pemupukan, yang penting harus ada kemauan," kata Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir kepada Media Indonesia, Selasa (10/1).
Menteri Pertanian Suswono mengakui, salah satu hal yang mendasari kebijakan percepatan diversifikasi pangan adalah potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sangat melimpah dan terbesar kedua di dunia sebagai sumber potensi pangan lokal.
Diakui Suswono, sampai saat ini potensi keanekaragaman hayati berupa pangan lokal tersebut belum termanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, Winarno juga menyayangkan langkah pemerintah yang kurang memperhatikan pangan lain sebagai upaya diversifikasi pangan. Ia menilai pangan alternatif hingga kini masih belum berkembang dan berproduksi secara pesat.
"Diversifikasi pangan harus dilakukan, tapi masalahnya pangan alternatifnya juga tidak ada atau berkurang produksinya. Untuk pangan lokal tidak ada rangsangan untuk dikembangkan, jadi mimpi mau menurunkan konsumsi tapi penggantinya tidak ada, ini dilema," ucap Winarno.
Ucapan Winarno diperkuat Mulyono Machmur selaku Ketua DPP Perhiptani. Menurutnya, pemerintah terlalu fokus dengan memaksimalisasi produksi beras, padahal justru menghambat produksi pangan lainnya yang dapat dijadikan alternatif diversifikasi.
"Peningkatan produksi dan beras murah justru membuat produksi pangan seperti ubi, singkong, sagu dll akan terhambat. Konsumsi pangan pokok akan terdominasi oleh beras," kata Mulyono diacara Perhiptani.
Suswono menilai, program pemerintah berupa beras miskin (raskin) yang dialirkan kedaerah-daerah menjadi penyebab masyarakat daerah yang memiliki pangan asli mereka, seperti sagu, justru terpinggirkan.
"Raskin ternyata menjadi pengamanan pangan sekaligus menjadikan pangan lokal menjadi terpinggirkan. Kedepannya untuk program raskin akan kita ubah menjadi pangkin atau pangan untuk orang miskin, jadi bukan hanya beras," tutup Suswono. (Fid/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar