Cari

Loading

Minggu, 30 Oktober 2011

Hari Pangan Sedunia: Bukan basi-basi

SATIA NEGARA LUBIS

Tepat tanggal 16 Oktober 2011 dunia akan memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 31. Peringatan HPS ini sesungguhnya warisan dari kumpul-kumpulnya 147 negara anggota FAO (Food and Agriculture Oganization) di Roma. Mereka merasa perlu menetapkan Wolrd Food Day melalui Resolusi PBB No. 1/1979 yang merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Fao Conference ke 20, November 1979 di Roma, Italia.

Basa-basi?
Di Indonesia sendiri HPS akan diperingati secara meriah tanggal 20-23 Oktober 2011 di Gorontalo dan peringatan itu kemungkinan besar dihadiri Presiden RI. Tentu saja kali ini saya akan menyempatkan diri masuk dalam kancah itu bersama tim Badan Ketahanan Pangan Kota Medan. Tujuannya sederhana, saya ingin melihat seperti apa sesungguhnya kesiapan kita dalam menghadapi ancaman kelaparan.

Jika tahun lalu peringatan HPS memiliki tema dunia United Againts Hunger atau di Indonesia diterjemahkan dengan Kemandirian Pangan Untuk Memerangi Kelaparan mengingat bahwa ancaman kelaparan masih ada dan siap menelan para korban yang tidak berdaya. Kali ini temanya lebih keren lagi yaitu Food Prices From Crisis To Stability atau dijabarkan lebih luas oleh pemerintah menjadi Menjaga Stabilitas Harga Dan Akses Pangan Menuju Ketahanan Pangan Nasional.

Tentu saja tema ini dianggap tepat oleh para pemikir di dunia. Tepat karena memang alasannya rasional yaitu saat ini dan ke depan dampak perubahan iklim global telah menyebabkan banyak negara, termasuk Indonesia mengalami penurunan produktivitas hasil pangan yang akan dikonsumsi oleh umat manusia. Penurunan produktivitas pangan menyebabkan ketersediaan pangan menjadi berkurang sementara permintaan pangan meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Maka, pangan akan menjadi langka dan sangat mahal dan jika negara-negara berdaulat tidak memantau secara hati-hati--tidak perlu heran jika banyak manusia akan terbunuh karena kemiskinan telah menjauhkan mereka dari akses pangan untuk bertahan hidup

Kadang-kadang geli juga, walaupun dunia memperingati HPS tiap tahun, tetap saja ketika negara-negara yang tergabung dengan FAO berkumpul--mereka cuma berlomba menyajikan data FAO dengan bangga sambil melansir data yang memiriskan hati--bahwa saat ini ada 925 juta orang di dunia menderita kelaparan dan 600 juta di antaranya terdapat di Asia dan ini terus akan meningkat walau tema diganti-ganti. Lebih menggelikan lagi, badan dunia begitu sadar bahwa kelaparan itu karena kemiskinan, tetapi justru kemiskinan baru yang diciptakan mesin-mesin perang negara adi daya tetap saja berlangsung. He…he… HPS mungkin hanya basa-basi.

Pangan Kota Medan ?

Saya kira lebih menarik kita menoleh sejenak dengan ketahanan pangan kota Medan dan bagaimana walikota memaknai HPS ini. Pertanyaan ini menjadi penting mengingat ketahanan pangan suatu daerah termasuk Medan memiliki tiga pilar utama, yaitu ketersediaan, distribusi dan akses pangan serta konsumsi. Ketiganya sudah seharusnya berjalan seimbang dan simultan, sehingga masyarakat terpenuhi pangannya secara seimbang dengan harga yang terjangkau. Ayo kita lihat permukaan pilar itu…

Pilar Ketersediaan. Kota Medan yang terdiri dari 21 kecamatan bukanlah sentra produksi pangan. Artinya pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal di pasok dari luar kota Medan baik kabupaten berdekatan atau luar Sumatera. Ketersediaan pangan selama ini di Medan tidak memiliki kendala yang subtantif. Sentra-sentra produksi pangan di luar kota Medan masih terus memasok pangan ke kota Medan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

Namun, demikian bukan berarti dalam jangka panjang ketersediaan pangan di Medan ini akan tetap terjamin mengingat fluktuatif iklim yang condong ekstrim--di beberapa daerah sentra produksi pangan--dianggap sebagai ancaman bagi ketahanan produktivitas. Tentu saja jalan keluar yang tepat adalah bagaimana walikota menggenjot cadangan pangan pemerintah dan masyarakat. Paling tidak terdapat cadangan pangan rumah tangga untuk tiga bulan konsumsi.

Dari pilar distribusi dan akses pangan, hingga triwullan III tahun 2011 terlihat stabilitas harga dan pasokan pangan di Medan masih stabil atau stabilitas harga berkisar antara 0 hingga 15 persen. Artinya tidak terjadi gejolak harga yang fluktuatif ekstrim kecuali pada Hari besar keagamaan. Kestabilan harga dan pasokan ini bermuara pada distribusi dan informasi pangan yang baik. Jalur tataniaga pangan dari luar Medan tidak mendapat hambatan berarti karena infrastruktur jalan memenuhi persyaratan untuk memasok pangan dengan waktu yang tepat.

Apa yang penting tentu saja bagaimana kinerja Dinas Perdagangan memantau stabilitas harga pangan di Medan secara terus menerus. Diharapkan harga pangan tidak bergejolak melebihi dari 25 persen. Dan untuk mengatasi hal tersebut informasi harga pangan kepada konsumen perlu menjadi fokus utama kegiatan Badan Ketahanan Pangan beserta SKPD lain. Hasil pantauan stabilitas harga akan menjadi acuan pengambilan kebijakan intervensi. Pada HBKN misalnya, gejolak harga yang tidak menentu akan dapat diintervensi dengan operasi pasar dan operasi pasar akan berhenti ketika harga sudah kembali stabil.

Dari pilar konsumsi, sampai dengan triwulan III tahun 2011 kecukupan pangan bagi rumah tangga di Medan masih memenuhi harapan yang ditetapkan pemerintah. Pola pangan harapan di Medan tercapai hingga 82 persen. Artinya secara kuntitatif masyarakat Medan dapat mengakses pangan dengan harga yang terjangkau dan secara kualitatif. Masyarakat Medan memahami persoalan dengan benar pola konsumsi yang bergizi dan berimbang. Sisa persoalan adalah keracunan panganan anak sekolah. Pada persoalan ini dinas kesehatan dan dinas pendidikan sangat diharapkan bekerja lebih serius lagi mencegah panganan yang akan dikonsumsi anak sekolah.

Di tingkat regional Gerakan Mandiri Pangan di Medan khususnya pada keluarga miskin berjalan baik dan mampu membawa perubahan secara gradual. Adanya kesepakan antara SKPD di bidang pangan untuk berkoordinasi melakukan program kerja dalam gerakan mandiri pangan menyebabkan kegiatan untuk mencapai ketahanan pangan secara regional di Medan telah dan akan tetap dilakukan secara multisektoral dan holistik.

Bagaimanapun, BKP Medan harus tetap berbenah menyambut gejolak pangan di Medan yang mungkin saja terjadi secara mendadak mengingat krisis pangan terjadi hampir setengah dari belahan dunia. Dalam hal ini Wali Kota sebagai lokomotif penggerak harus bertindak tegas untuk menyatukan visi ketahanan pangan pada semua SKPD terkait. Ego sektoral sudah tidak tepat lagi di kedepankan hanya untuk menang sendiri alias jago sendiri. Tanpa ada rajutan bersama antara SKPD pangan maka jangan harap ketahanan pangan di Medan dapat bertahan pada tingkat yang memenuhi Standar Pelayan Minimal.

Penutup
Peringatan Hari Pangan Sedunia kali ini hendaknya membuka mata dan hati kita semua bahwa ancaman kelaparan masih ada dan siap menelan para korban yang tidak berdaya. Stabilitas harga pangan dan akses pangan harus tetap dipantau oleh seluruh pemangku kepentingan secara rutin. Melalui HPS tekad untuk menciptakan pemenuhan pangan bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau menjadi semakin kuat.

Saatnya bagi Pemko Medan beserta masyarakat untuk sungguh-sungguh melakukan langkah nyata mengantisipasi bahaya kelaparan yang masih mengancam. Hanya dengan komitmen dan kesungguhanlah kita mampu meminimalisir ancaman kelaparan. HPS bukan basa-basi tetapi aksi.

*Penulis adalah Dosen USU dan Anggota Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Dan Kota Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar