Cari

Loading

Senin, 15 April 2013

Diversifikasi Pangan Mendesak


Achmad Suryana mencicipi salah satu produk madu asli Malang

Kebutuhan Beras Masih Tinggi
MALANG-  Tahun demi tahun, lahan pertanian semakin menyempit.  Pemerintah pun mulai menggalakkan program diversifikasi pangan, sebagai salah satu cara menyandingkan beras dengan bahan pokok lain. Alasan lain pentingnya diversifikasi pangan karena konsumsi beras Indonesia terbilang tinggi.  Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Ahmad Suryana mengatakan, diversifikasi pangan bisa dilakukan karena Indonesia kaya akan bahan pangan pokok selain beras.  “Program ini harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar kualitas gizi masyarakat seimbang dan bervariasi,” paparnya dalam acara Gebyar Diversifikasi Pangan Kota Malang yang diadakan di Stadion Luar Gajayana, kemarin.
Dia menjelaskan, salah satu program yang dilakukan pemerintah adalah mengganti nasi dengan bahan makanan olahan singkong seperti tiwul. Menurutnya, tiwul juga telah menjadi bahan makanan pokok khas Indonesia sejak dahulu. “Meski belum ada penelitian secara ilmiah, banyak masyarakat yang menilai kalau makan nasi menyebabakan penyakit tertentu. Untuk itu, masyarakat bisa mengganti nasi dengan singkong,” ujar dia. Khusus  di  Pulau Jawa, kata dia, singkong bisa menjadi andalan lantaran produksi singkong di lahan milik masyarakat cukup besar. Bahkan ditargetkan bisa mencapai 20 juta ton tahun ini.  Sebagai langkah konkret  diversifikasi pangan, saat ini  mulai digalakkan pemberian benih-benih singkong serta pelatihan pola tanam yang baik.
“Jika sudah maksimal, maka hasil singkong yang ditanam masyarakat bisa mencapai 35 ton per hektar. Hal ini bisa mengurangi tekanan akan kebutuhan beras,” terang dia. Namun demikian, ia  mengakui mengubah pola pikir masyarakat untuk mengurangi konsumsi nasi cukup sulit. Karena itu memerlukan waktu yang cukup panjang. “Indonesia sudah melakukan diversifikasi sejak 2010 lalu. Semoga pada tahun 2014 masyarakat bisa menganggap bahwa bahan pokok tak hanya nasi. Sekarang program ini harus terus kita sosialisaikan kepada masyarakat secara lebih luas,” kata dia.  Wali Kota Malang, Peni Suparto yang turut hadir dalam acara itu mengatakan khusus di Kota Malang, kebutuhan beras  mencapai 167.000 ton per tahun. Padahal produksi beras hanya 73.000 ton beras di atas lahan seluas 1.282 hektar. “Itu berarti Kota Malang masih butuh tambahan 94.000 ton beras yang harus dibeli dari luar Kota Malang,” ujarnya. (van/mar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar